Ngaji Bareng Panser Biru

ngaji1

ngaji1

Tasyakuran ulang tahun Panser Biru kali ini berbeda dari tahun sebelumnya karena diadakan di halaman Balaikota Semarang , perhelatan akbar yang bertemakan “Ngaji Bareng Panser Biru” ini masih dalam benang merah jargon nya yaitu “Mem PSIS kan Semarang, Menyemarakkan PSIS” yang turut mengundang orang pertama di kota Atlas yaitu Bapak Walikota Semarang atau yang mewakili, beserta seluruh anggota Panser Biru khususnya dan seluruh Warga Kota Semarang pada umumnya. Dari kejauhan juga tampak beberapa pemain PSIS Semarang turut hadir Welly, Fauzan, Fadly.

Ulang tahun Panser Biru yang ke 14 ini mengajak kawula muda supporter Semarang untuk sejenak ikut bersholawat dan mendengarkan tausiyah dari Kyai nyentrik dan gaul Kyai Budi Harjono dan kelompok musik etnic nya Swara Kalimasada. Siapa tak kenal beliau, ternyata beliau juga sangat respect dengan Panser Biru dan juga sangat mensupport PSIS Semarang.

Acara ini dibuka terlebih dahulu dibuka dengan menyanyikan Lagu Indonesia Raya, Mars Panser Biru dan Semangat ini untukmu. Dilanjutkan dengan beberapa sambutan yaitu dari Ketua Harian Panser Biru Galih “Ndog, kemudian sambutan dari pembina Lek Sam dan juga tak lupa sambutan dari Ketua terdahulu yaitu Mario Baskoro.

“Semoga dengan bertambahnya usia Panser Biru yang ke 14 , organisasi ini menjadi semakin dewasa dan bertambah besar dengan dipimpin oleh Mas Wareng. Saya akan tetap ada di belakang Panser Biru dan mensupport selalu.” ucap Mario.

Setelah sambutan selesai dilanjutkan dengan potong tumpeng oleh Mas Wareng didampingi Kyai Budi dan menyalakan flare oleh Ferry Opel dirijen Panser Biru. Dilanjutkan dengan sholawatan dan tausiyah yang dipimpin oleh Kyai Budi. Terlihat antusias rekan- rekan Panser Biru maupun masyarakat umum yang hadir cukup besar karena selain konsep acara yang berbeda ,mereka juga tertarik dengan tausiyah yang disampaikan oleh Kyai yang malam itu memakai sorban di kepala nya dan kaos bertuliskan Anniversary 14 Panser Biru. Tak jarang gelak tawa riuh dari hadirin mewarnai suasana balaikota malam itu.

“Dengan bertambahnya umur semoga Panser Biru menjadi semakin besar, semakin damai dan tidak ada yang berbau anarkis, kehidupan harus penuh cinta karena cinta bisa merubah kebiadaban menjadi peradaban.” tutur Kyai Budi.

Suasana semakin syahdu ketika mengalun lagu- lagu dari musik etnic milik Kyai Budi yaitu Swara Kalimasada yang diiringi juga oleh tarian ala sufi. Ditambah dengan lagu – lagu akustik oleh anak dari Kyai nyentrik itu yang juga ternyata bergabung dengan Panser Biru semasa masih berdomisili di Semarang.

Acara ditutup dengan bersama- sama menyanyikan lagu berjudul Panser Untuk Semarang dan lagu Semarang Semangat ini untukmu, kemudian perhelatan malam itu dipungkasi dengan Konvoi bersama oleh rekan- rekan Panser Biru keliling Kota Semarang untuk kemudian pulang ke rumah masing- masing.

Penulis : Nurul Layalia (nl-25)